Selasa, 21 Desember 2021

Media Dalam Perspektif Ekonomi dan Politik

Nama   : Sekar Pratiwi

NIM    : B75219076

Kelas   : E3

Media dan Kritik Sosial

Media Dalam Prespektif Ekonomi dan Politik

Teori Ekonomi Politik Media

            Terdapat empat teori ekonomi politik yang terkait dengan kepemilikan media yang berkembang di dunia saat ini yaitu libertarianisme, kapitalisme, sosialisme, dan liberalisme modern. (Usman,2009:22).

Libertarianusme adalah teori ekonomi yang menganggap kebebasan manusia sekaligus peran pemerintah sangat penting keberadaannya. Teori ekonomi politik ini membolehkan kepemilikan media oleh swasta dan pemerintah mengawasi agar persaingan berlangsung sehat.

Kapitalisme adalah teori yang mengizinkan individu atau korporasi bisnis memiliki dan mengontrol sumber-sumber kekayaan atau kapital negara. Industri media dimiliki oleh swasta, indistri media bebas berkompetisi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Sosialisme adalah sistem ekonomi politik yang berpandangan bahwa pemerintah harus memiliki dan mengontrol sumber-sumber kekayaan negara. Negara menguasai media sehingga tidak ada persaingan ekonomi dibidang indistri media massa.

Liberalisme modern adalah teori ekonomi politik yang memadukan sistem libertarianisme, kapitalisme, dan sosialisme. Liberalisme mengambil hal-hal positif dari ketiga sistem tersebut.

Merujuk pada pasal 13 ayat 2 undang-undang no.32 tahun 2002 tentang penyiaran, jasa penyiaran sesungguhnya diselenggarakan oleh lembaga penyiaran publik, swasta, komunitas, dan berlangganan. Jika dikaitkan dengan kepemilikannya , maka lembaga penyiaran publik dimiliki pemerintah, swasta oleh individu atau korporasi bisnis, komunitas oleh sekelompok komunitas tertentu, dan berlangganan dimiliki oleh swasta. Untuk lembaga penyiaran berlangganan saat ini Telkomvision telah berganti nama menjadi Transvision dan dimiliki oleh grup Trans Corp, bukan lagi grup PT Telkom yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sedangkan Dennis McQuail merangkum bentuk-bentuk kepemilikian media menjadi tiga yaitu perusahaan komersial (media swasta), institusi nirlaba (media komunitas dan media pemerintah), serta lembaga yang dikontrol publik (media publik). (Usman,2009:23).

Bentuk-bentuk kepemilikan media ini terkait erat dengan masalah kebebasan pers. Kebebasan pers mendukung hak kepemilikan untuk memutuskan isi media itu sendiri. Dengan demikian bentuk-bentuk kepemilikan mempunyai pengaruh pada pembentukan dan produksi isi media. Diversity of ownership melalui sistem stasiun berjaringan yang diamanatkan Undang-undang penyiaran adalah merupakan salah satu upaya agar bentuk dan produksi isi media tidak dipengaruhi oleh satu orang pemilik saja. Menurut McQuail, teori ekonomi politik media merupakan bagian atau cabang dari teori kritis media. Ada lima cabang utama teori kritis media, pertama adalah Marxisme klasik yang menganggap media sebagai alat bantu dari kelas yang dominan dan sebuah cara untuk para kapitalis untuk menunjukan ketertarikan mereka dalam menghasilkan keuntungan. Media menyebarkan ideologi dari dorongan yang berkuasa dalam masyarakat dan dengan demikian menindas golongan-golongan tertentu. (Littlejohn, 2009:432).

Cabang yang kedua adalah teori ekonomi politik media (political-economic media theory). Hampir sama dengan Marxisme klasik, teori ini menyalahkan kepemilikan media bagi keburukan masyarakat. Dalam pemikiran ini, isi media merupakan komoditas untuk dijual di pasaran, dan informasi yang disebarkan diatur oleh apa yang akan diambil oleh pasar. Cabang teoritis yang ketiga adalah Frankfurt School. Teori ini memandang media sebagai cara untuk membangun budaya, menempatkan lebih banyak penekanan pada pemikiran ketimbang pada materi. Dalam teori ini, media menghasilkan dominasi ideologi golongan atas. Hasil ini didapatkan dengan manipulasi media terhadap gambaran dan simbol untuk keuntungan golongan yang dominan. Cabang yang keempat adalah teori hegemonis (hegemonic theory). Hegemoni merupakan dominasi ideologi palsu atau cara pikir terhadap kondisi sebenarnya. Ideologi tidak disebabkan oleh sistem ekonomi saja, tetapi ditanamkan secara mendalam pada semua kegiatan masyarakat. Ideologi tidak dipaksakan oleh salah satu kelompok kepada yang lain, tetapi bersifat persuasif dan tidak sadar.

Cabang yang kelima adalah penelitian budaya. Penelitian budaya sangat bergantung pada semiotik, para peneliti ini tertarik pada pemaknaan budaya tentang hasil-hasil media. Peneliti ini melihat pada cara-cara isi media ditafsirkan, termasuk penafsiran yang dominan dan oposisional. Teori Analisis Resepsi Stuart Hall adalah juga termasuk dalam cabang ini. Pada umumnya, kajian media massa sangat terkait dengan aspek budaya, politik dan ekonomi sebagai suatu kesatuan yang saling mempengaruhi. Dari aspek budaya , media massa merupakan institusi sosial pembentuk definisi dan citra realitas sosial, serta ekspresi identitas yang dihayati bersama secara komunal. (Sunarto, 2009:13)

Begitu juga apabila media massa dilihat dari aspek politik. Media massa memberikan ruang dan arena bagi terjadinya diskusi aneka kepentingan berbagai kelompok sosial yang ada di masyarakat dengan tujuan akhir untuk menciptakan pendapat umum sebagaimana yang diinginkan oleh masihmasing kelompok sosial tersebut. Sedangkan dari aspek ekonomi, media massa merupakan institusi bisnis yang dibentuk dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan secara material bagi pendirinya. Perspektif ekonomi politik melihat bahwa media tidak lepas dari kepentingan baik kepentingan pemilik modal, negara atau kelompok lainnya. Dengan kata lain, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat. Proses dominasi ini menunjukan adanya penyebaran dan aktifitas komunikasi massa yang sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi politik masyarakat yang bersangkutan. Implikasi logisnya adalah realitas yang dihasilkan oleh media bersifat bias dan terdistorsi. Kajian ekonomi politik media memiliki beberapa varian, yakni instrumentalisme, kulturalisme dan strukturalisme.

Varian instrumentalisme memberikan penekanan pada determinisme ekonomi, dimana segala sesuatu pada akhirnya akan dikaitkan secara langsung dengan kekuatan-kekuatan ekonomi. Perspektif ini cenderung menempatkan agencies pada posisi lebih dominan dalam suatu struktur atau kultur. Kelas yang mendominasi adalah kapitalis dengan kekuatan ekonominya. Dalam hal ini, menempatkan media sebagai instrumen dominasi yang dapat digunakan oleh pemilik modal atau kelompok penguasa lainnya untuk memberikan arus informasi publik sesuai dengan kepentingannya dalam sistem pasar komersial. Pendekatan ekonomi politik media menekankan bahwa masyarakat kapitalis terbentuk menurut cara-cara dominan dalam produksi yang menstrukturkan institusi dan praktik sesuai dengan logika komodifikasi dan akumulasi kapital. Produksi dan distribusi budaya dalam sistem kapitalis harus berorientasi pada pasar dan profit. Kekuatan produksi seperti teknologi media dan praktik-praktik kreatif dibentuk menurut relasi produksi dominan (seperti profit yang mengesankan), pemeliharaan kontrol hirarkis dan relasi dominasi. Karena itu sistem produksi sangatlah penting dalam menentukan artefak-artefak budaya apa saja yang perlu diproduksi dan bagaimana produk-produk budaya itu dikonsumsi. (Sunarto, 2009:15-16).

Dengan pola pemahaman tersebut, maka orientasi pendekatan ekonomi politik bukanlah semata-mata persoalan ekonomi tetapi juga pada relasi antara dimensi-dimensi ekonomi politik, teknologi dan budaya dari realitas sosial. Dalam kajian ekonomi politik media varian instrumentalisme, sangat terasa sekali pengaruh perspektif tindakan sosial yang menekankan pada aspek determinisme individual yang melihat bahwa perilaku manusia ternyata bukan dipengaruhi oleh masyarakat, tetapi masyarakat merupakan produk dari aktivitas manusia melalui tindakan individual dan kelompok. Artinya, agen individu mempunyai kehendak bebas untuk melakukan tindakan sosial tanpa terpengaruh oleh struktur masyarakatnya. Dalam konteks industri televisi misalnya, interaksi antar agen dipandang berperan penting dalam menentukan isi program televisi untuk memenuhi tujuantujuan personal para agen tersebut. Dalam upayanya untuk melindungi kepentingan personalnya, secara praktis tujuan personal direpresentasikan melalui kekuasaan pemilik saham. Pemilik media bisa menjalin kerjasama dengan agen lain di ranah politik, sosial dan kultural untuk bersamasama melindungi kepentingan personal (komunal) mereka. Kepentingan komunal tersebut seolah-olah lepas dari pengaruh struktur ekonomi, politik, sosial dan kultural yang ada.

Dalam kajian ekonomi politik media varian strukturalisme, tampaknya terpengaruh perspektif struktural dimana isi media seperti televisi ditentukan oleh struktur ekonomi yang berlaku. Sebagai contoh di Indonesia, struktur kapitalisme sebagai penentu kehidupan industri media televisi dibuat berlapis-lapis mulai dari lokal, regional dan global. Struktur kapitalis ini kemudian secara dominan mengatur kehidupan industri sehingga „agen‟ atau pekerja media seolah tak berjiwa. Sunarto (2009) menyebut mereka sebagai „zombie-zombie‟ tak berjiwa karena semua langkahnya ditentukan oleh struktur kapitalisme global. Struktur kapitalis ini dipandang mampu mengatasi aspek voluntaristik agen individual. Sehingga di sisi yang lain agen tidak mempunyai kehendak bebas atas semua tindakan sosial karena semua tindakannya merupakan cerminan dari strukturb kapitalisme global tersebut.

Kesimpulan

Terdapat empat teori ekonomi politik yang terkait dengan kepemilikan media yang berkembang di dunia saat ini yaitu libertarianisme, kapitalisme, sosialisme, dan liberalisme modern. Libertarianisme adalah teori ekonomi yang membolehkan kepemilikan media oleh swasta dan pemerintah mengawasi agar persaingan berlangsung sehat. Kapitalisme adalah teori yang mengizinkan individu atau korporasi bisnis memiliki dan mengontrol sumbersumber kekayaan atau kapital negara. Sosialisme adalah sistem ekonomi politik yang berpandangan bahwa pemerintah harus memiliki dan mengontrol sumber-sumber kekayaan negara. Liberalisme modern adalah teori ekonomi politik yang mengambil hal-hal positif dari ketiga sistem tersebut.

Menurut McQuail, teori ekonomi politik media merupakan bagian atau cabang dari teori kritis media. Teori ekonomi politik media (political-economic media theory) menyalahkan kepemilikan media bagi keburukan masyarakat. Dalam pemikiran ini, isi media merupakan komoditas untuk dijual di pasaran, dan informasi yang disebarkan diatur oleh apa yang akan diambil oleh pasar. Perspektif ekonomi politik melihat bahwa media tidak lepas dari kepentingan baik kepentingan pemilik modal, negara atau kelompok lainnya. Dengan kata lain, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat.

Proses dominasi ini menunjukan adanya penyebaran dan aktifitas komunikasi massa yang sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi politik masyarakat yang bersangkutan. Implikasi logisnya adalah realitas yang dihasilkan oleh media bersifat bias dan terdistorsi. Akibat dari monopoli kepemilikan media terhadap isi media pada dasarnya sulit untuk dibuktikan, namun monopoli dari pemilik media dikhawatirkan mampu mengancam kebebasan pers dan pilihan bagi konsumen. Akhirnya, jika pemilik selalu mengintervensi isi medianya untuk tujuan propaganda, maka akan muncul risiko media tersebut kehilangan peminat dan kredibilitasnya.

Daftar Pustaka

Dwita, Desliana. “Televisi dan Kepentingan Pemilik Modal dalam Perspektif Teori Ekonomi Politik Media.” Jurnal Ipteks Terapan 8, no. 4 (23 Juli 2015). https://doi.org/10.22216/jit.2014.v8i4.21.

Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss (2009), “Theories of Human Communication, 9th ed.                      (terjemahan), Salemba Humanika, Jakarta

Sunarto (2009), “Televisi, Kekerasan, dan Perempuan”, Kompas, Jakarta

Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran

Undang-undang no. 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers

Usman Ks (2009), “Ekonomi Media : Pengantar Konsep dan Aplikasi”, Ghalia Indonesia, Bogor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media dan Kritik Sosial